Sabtu, 15 November 2014

Sepenggal Tentang Hujan, Petir, Badai dan Pelangi

"Memperhatikan sepasang hati bercengkerama dibalik awan tebal dan hitam// Lukisan senyummu seolah menghapus kecemasan sebuah pertanda akan jatuh hujan lebat dan petir yang akan menyambar// Namun itu semua tak mampu menggetarkan rasa dihatinya/ bahkan mereka seperti sedang bergandengan sambil menari di tengah-tengah badai// 
Beberapa teriakan dari bawah langit memanggil-manggil mereka untuk segera turun dan kembali kerumah masing-masing// Sebelum hujan benar-benar jatuh/ namun mereka tidak kunjung pada sedianya//
Mereka haus karena kemarau panjangnya/ apalah arti badai dan petir // Jika itu hanya termakna harga dari sebuah hujan yang mereka nanti di sepanjang kekeringan kemarau/ yang akan termanfaatkan untuk banyak kehidupan/ ini hanya proses alam// Ada satu nuansa kebahagiaan yang mereka nantikan seandainya telah berhasil melalui badai dan petir, yaitu pelangi// 
Mereka tidak memperdulikan tentang kedua kemungkinan muncul setelah hujan badai tersebut// Apakah akan benar-benar muncul pelangi atau tidak sama sekali// Mereka hanya menikmati semua gejala alam ini apa adanya//
Sebersit tentang pelangi yang muncul pun takkkan pernah lama// Namun setidaknya mereka pernah menikmatinya bersama-sama// Sekiranya kau pernah tahu dan mengerti tentang rasa pahit dan manisnya// Semua akan kembali berputar/ waktu akan berjalan memutar kembali// Akan ada kemarau lagi yang mungkin kau lalui sendiri lagi ataukah berbagi// Bahkan akan ada salju atau semi/ dan gugur pada musim masanya// Akan selalu datang untuk kehidupan selanjutnya/ dan akan terlaluilah dengan cara untukmu menikmatinya/ sendiri atau berbagi//
Jika memang Tuhan menganugerahkan amanat besar itu padanya/ dan ketika dibalik terjangan panas/ hujan/ petir dan badai// Mereka masih mampu bertahan meski sempat tubuhnya menggigil kesakitan// Masih ada pelangi tercipta untuk mereka nikmati bersama// Meski hanya sebuah lagu pelangi sekalipun/ dan ini adalah kehidupan//